8 Ajang Seni di Yogya

  • Seorang pengunjung di acara

    Seorang pengunjung di acara "Jogja Mini Print Biennale" di Sangkring Art Space.

  • Karya seniman Abdi Setiawan pada pameran

    Karya seniman Abdi Setiawan pada pameran "Bantul Art Summit" di Gajah Gallery.

  • Suasana pameran

    Suasana pameran "At the Still Point: Four Painters Making Work" di Langgeng Art Foundation.

  • Suasana pameran Bantul Art Summit di Gajah Gallery.

    Suasana pameran Bantul Art Summit di Gajah Gallery.

  • Sesuai namanya, Galeri Rumah Jati benar-benar terbuat dari jati.

    Sesuai namanya, Galeri Rumah Jati benar-benar terbuat dari jati.

  • Pameran

    Pameran "Jammin the Name of the Lord" yang dikhususkan bagi seniman muda.

  • Interior ruang pameran di Pelataran Djoko Pekik.

    Interior ruang pameran di Pelataran Djoko Pekik.

  • Seniman Prihatmoko Moki di pintu masuk galeri Krack.

    Seniman Prihatmoko Moki di pintu masuk galeri Krack.

Click image to view full size

Sejak Mei hingga Juni, lebih dari 80 ajang seni digelar di Yogyakarta guna menyongsong, memeriahkan, bahkan menandingi ArtJog. Berikut delapan yang menarik dilirik.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Kurniadi Widodo

A Study of the Visible
25 Mei-24 Juli
Langgeng Art Foundation

Mungkinkah ada pendekatan baru dalam seni lukis Bali? Pertanyaan itulah yang ingin dijawab oleh Gede Mahendra Yasa. Perupa kondang kelahiran Singaraja ini mengajak orang memikirkan ulang, mungkin juga membantah, definisi baku seni lukis Bali. Dalam lukisan bertajuk After Paradise Lost misalnya, Hendra menyisipkan Pangeran Diponegoro di bawah kerumunan gadis bugil. Pada karya lainnya, dia menampilkan adegan tinju di tengah alam hijau banjar khas Pulau Dewata.

Hendra, peraih penghargaan Most Innovative Young Artist 2009 dari Mapping Asia, tak cuma menyandingkan secara canggung figur-figur dari dimensi yang berbeda, tapi juga kerap mencampur langgam seni yang berbeda. Eksperimennya terasa provokatif, seakan menggeser proses apresiasi menjadi kajian ilmiah soal sejauh mana kategori-kategori seni bisa dipelintir, direvisi, atau sepenuhnya diabaikan.

Bersamaan dengan pameran solo Hendra, Langgeng Art Foundation menyelenggarakan ekshibisi lain yang menarik: At the Still Point. Tema kuratorialnya terlalu longgar dan wacananya kelewat datar, tapi suguhannya cukup menggiurkan: dua seniman ternama Indonesia (Agus Suwage dan Jumaldi Alfi) bertemu dua koleganya asal Malaysia (Ahmad Zakii Anwar dan Jalaini Abu Hassan). Jl. Suryodiningratan 37; 0274/417-043; langgengfoundation.org.

Barang-barang seni yang dijual di Ace House.

Barang-barang seni yang dijual di Ace House.

Grosir Seni
25 Mei-25 Juni
Ace House

Mirip Circle K, tapi dagangannya benda seni. Serupa dengan ArtJog, tapi targetnya khalayak massal dengan kocek terbatas. Untuk kedua kalinya, Ace House menggelar Grosir Seni, sebuah toko kelontong temporer yang beroperasi 24 jam dan menjajakan karya seni dengan harga berkisar Rp500.000-5.000.0000. “Masyarakat umum biasanya segan mendatangi ruang-ruang seni,” jelas Rudy Atjeh, pentolan Ace House. “Karena itu kami menciptakan konsep Grosir Seni. Sekarang ibu-ibu tetangga kami pun bisa mengakses benda seni.”

Berhubung konsepnya minimarket, Grosir Seni tidak memiliki kurator, melainkan “store manager.” Rudy dan kawan-kawan menata karya di antara pasta gigi, mi instan, dan bawang putih. Layaknya minimarket pula, Grosir Seni mewajibkan setiap karya berukuran ringkas agar bisa langsung dibawa pulang oleh pembeli. Salah satu dagangan yang cukup menonjol adalah foto Snoop Dogg dalam busana muslim karya Agan Harahap, perupa yang lihai dalam rekayasa digital dan konsisten mengusung moto “foto tidak harus jujur.” Jl. Mangkuyudan No.41, Mantrijeron; 0274/3819-595; acehousecollectiveyk.com. >>



Comments

Related Posts

4500 Views

Book your hotel

Book your flight