7 Keajaiban Arsitektur Rotterdam

  • Interior Cube House berdesain eksentrik.

    Interior Cube House berdesain eksentrik.

  • Halaman Museum Park yang kerap dijadikan area piknik warga lokal.

    Halaman Museum Park yang kerap dijadikan area piknik warga lokal.

  • Interior Boijmans Van Beuningen di Museum Park.

    Interior Boijmans Van Beuningen di Museum Park.

Click image to view full size

Usai hancur dibom Nazi, Rotterdam bangkit menjadi kota modern yang kaya permainan desain. Tahun lalu, ia dinobatkan sebagai kota terbaik di dunia versi Academy of Urbanism.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Donang Wahyu

Rotterdam dan arsitektur dan adalah dua kata yang tak bisa dipisahkan. Banyak arsitek ternama dunia memiliki proyek di sini, sebut saja Norman Foster, Alvaro Siza, Rem Koolhaas, dan Renzo Piano. Kota ini bahkan memiliki ajang arsitekturnya sendiri, yakni International Architecture Biennale; serta memiliki pusat studi arsitekturnya sendiri, yakni Het Nieuwe Instituut. Berikut tujuh pencapaian arsitektural yang paling terkenal di Rotterdam.

Struktur Erasmus Bridge dengan desain kolosal.

Struktur Erasmus Bridge dengan desain kolosal.

Erasmus Bridge
Jika San Francisco memiliki Golden Gate Bridge sebagai ikonnya, Rotterdam membanggakan Erasmus Bridge (unstudio.com). Jembatan sepanjang 802 meter ini membentang di atas Sungai Meuse dan menghubungkan kawasan selatan dan utara kota. Erasmus Bridge dirancang oleh Ben van Berkel dan diresmikan oleh Ratu Beatrix pada 1996.

Di tengah jembatan terdapat menara yang disangga oleh kabel-kabel suspensi. Dari kejauhan, Erasmus Bridge terlihat seperti angsa raksasa yang tengah mengepakkan kedua sayapnya, karena itulah ia dijuluki “The Swan” oleh warga lokal. Sebagaimana Suramadu atau Golden Gate, Erasmus Bridge ramai diserbu wisatawan. Tiap akhir pekan, kita bisa menemukan bus-bus turis dan aneka food truck di kaki jembatan.

Tak jauh dari Erasmus Bridge terdapat The Destroyed City, patung yang dibuat oleh seniman Rusia Ossip Zadkine untuk mengenang tragedi serangan Nazi. Pada 14 Mei 1940, Adolf Hitler mengutus skuadron Luftwaffe untuk menyapu bersih Rotterdam. Sejarah mencatat, 80.000 orang kehilangan rumah dan 800 nyawa melayang. Dari balik puing dan bara inilah Rotterdam bangkit dan berubah menjadi kota modern yang dijuluki “Manhattan di bantaran Sungai Meuse.” The Destroyed City terletak di pelataran Maritime Museum (maritiemmuseum.nl).

Floating Pavilion yang bertujuan mengurangi beban kota.

Floating Pavilion yang bertujuan mengurangi beban kota.

Floating Pavilion
Rotterdam sedang merancang proyek masa depan bernama Floating Community. Tujuannya adalah mengurangi beban kota sekaligus memaksimalkan lanskap Rotterdam sebagai kota delta. Ada banyak inovasi menarik dalam Floating Community dan semuanya memakai embel-embel “terapung,” sebut saja hutan terapung, hunian terapung, dan, yang sudah terealisasi, paviliun terapung.

Paviliun terapung dirancang oleh Delta Sync (deltasync.nl). Bentuknya adalah bangunan serbaguna yang terapung di atas sungai. Paviliun terapung terdiri dari tiga kubah yang terkoneksi oleh jembatan dan bisa dimanfaatkan sebagai ruang pameran atau hajatan. Kubah-kubah ini sekarang ditempatkan di ujung Erasmus Bridge, persisnya di Kop van Zuid, sebuah kawasan yang menampung banyak struktur ikonis seperti gedung antara lain KPN Tower (rpbw.com) rancangan Renzo Piano, De Rotterdam (derotterdam.nl) karya Rem Koolhaas, serta New Luxor Theater (luxortheater.nl) dari Bolles+Wilson.

Halaman Museum Park yang kerap dijadikan area piknik warga lokal.

Halaman Museum Park yang kerap dijadikan area piknik warga lokal.

Museum Park
Wajib dikunjungi bagi pencinta museum, taman luas ini menampung sejumlah museum paling terkenal di Rotterdam. Tempat pertama yang wajib dikunjungi adalah Boijmans Van Beuningen (boijmans.nl), museum yang menampung lukisan karya maestro sekaliber Rembrandt dan Van Gogh; serta menyuguhkan pameran berkala bertema desain yang merespons gejala kontemporer. Boijmans Van Beuningen menampilkan 4.000 benda seni. Angka yang kolosal memang, tapi itu sebenarnya hanya mewakili tujuh persen dari total koleksi museum. Guna mengatasi keterbatasan ruang ekshibisi, museum ini berencana mendirikan Public Art Depot pada 2018.

Museum Park juga menampung Het Nieuwe Instituut (hetnieuweinstituut.nl). Tempat ini awalnya bernama Netherlands Architecture Institute. Untuk memperluas fungsinya, ia diubah menjadi pusat studi yang mencakup pula desain dan budaya. Hingga 8 Mei 2016, Het Nieuwe Instituut menggelar pameran Temporary Fashion Museum yang mengulas perkembangan fesyen di Belanda, serta menggali hubungan fesyen dengan arsitektur .

Tempat ketiga yang menarik didatangi di Museum Park adalah Sonneveld House (huissonneveld.nl), rumah yang dibangun pada awal abad ke-19 dan mengaplikasikan dengan sempurna gaya Nieuwe Bouwen—cabang International School of Modernism di Belanda. Sonneveld House didesain oleh Brinkman & Van der Vlugt, firma yang pernah menangani Feyenoord Stadium.

Jembatan Luchtsingel yang berjasa menghidupkan gedung-gedung tua yang dilewati.

Jembatan Luchtsingel yang berjasa menghidupkan gedung-gedung tua yang dilewati.

Luchtsingel
Pada 2012, Pemkot Rotterdam meluncurkan program City Initiative, sebuah sayembara tahunan yang bertujuan mencari ide-ide segar di bidang desain dan arsitektur. Bagi para pemenangnya, pemerintah menghibahkan dana senilai dua hingga empat juta euro. Salah satu alumni tersukses City Initiative adalah Luchtsingel (luchtsingel.org), jembatan kayu yang dibentangkan melewati (dan menembus) gedung-gedung tua yang terbengkalai. Schieblock (schieblock.com), salah satu gedung yang dilewati Luchtsingel, kini berubah menjadi kompleks belanja dan hiburan. Kakinya dihuni zona hangout Beer Garden (biergartenrotterdam.nl), sementara atapnya diisi area pentas teater. Dulu, gedung bekas sarang pemadat ini senantiasa dijauhi warga. Sekarang, ia menjadi salah satu tempat paling ramai tiap akhir pekan.

Yang juga menarik dari Luchtsingel adalah proses pembuatannya. Dana hibah dari Pemkot sebenarnya tidak mencukupi untuk membangun jembatan ini hingga tuntas, karena itulah penggagasnya menempuh solusi crowd-funding: menjual papan-papan penyusun jembatan dengan harga 2,5 euro per bilahnya. Sebagai kompensasi, setiap orang yang menyumbang boleh menuliskan apa saja di atas papan, mulai dari propaganda hingga anekdot. Alhasil, Luchtsingel terlihat seperti rangkuman unek-unek warga. Mungkin berkat partisipasi publik yang luas itu, Luchtsingel, kendati kalah megah dari Erasmus Bridge, merupakan jembatan yang paling dicintai warga. >>



Comments

Related Posts

2150 Views

Book your hotel

Book your flight