6 Museum Buatan Merek Premium Dunia

Enam merek premium mendirikan ruang artistik untuk merekam riwayatnya, memajang koleksi pribadi pemiliknya, atau semata menciptakan asosiasi dengan dunia seni.

Fondation Louis Vuitton, bangunan yang didesain arsitek ternama Frank Gehry. (Foto: Iwan Baan)

Oleh Cristian Rahadiansyah dan Nina Hidayat

Fondation Louis Vuitton, Paris
Berbeda dari Louvre yang riuh, Fondation Louis Vuitton relatif dibalut ketenangan. Sebelas galeri di rahimnya memajang koleksi pribadi Bernard Arnault, CEO LVMH yang juga kolektor seni. Daya tarik lain Fondation Louis Vuitton tentu saja desainnya. Strukturnya mirip awan kaca yang menyembul di antara pepohonan taman Jardin d’Acclimatation. “Pembuatannya memakan waktu 10 tahun,” kata Frank Gehry, sang arsitek. “Arnault dan saya sepakat untuk membuat struktur dari kaca sebagai tribut bagi bangunan sejenis dari abad ke-19, salah satunya restoran legendaris Palmarium.” fondationlouisvuitton.fr.

Fasad Musée Yves Saint Laurent yang memancarkan pola benang. (Foto: Nicolas Math)

Musée Yves Saint Laurent, Marrakech
Yves Saint Laurent melawat Marrakech pertama kalinya pada 1966, lima tahun setelah mendirikan label yang menyandang namanya. Sejak itu, Marrakech tak bisa dilepaskan dari hidupnya. Banyak ilham kreasinya dipetik dari kota ini. Di waktu senggangnya, dia menyepi di sini. Pada 2017, sembilan tahun selepas kepergian sang desainer, sebuah museum yang merekam jejaknya dibuka di sini. Museum fesyen pertama di Afrika ini berfungsi layaknya gedung arsip. Koleksinya meliputi prototipe busana, kliping, serta lebih dari 1.000 foto buatan fotografer berpengaruh sekaliber Irving Penn dan Helmut Newton. museeyslmarrakech.com.

Salah satu ruang pamer di Fondazione Prada. (Foto: Gianni Piacentino)

Fondazione Prada, Milan
Tempat ini, menurut sang arsitek Rem Koolhaas, “bukanlah sebuah proyek pelestarian ataupun karya arsitektur baru. Ia adalah titik temu keduanya. ”Filosofi itulah yang membuat Fondazione Prada seperti berada di antara dua kutub: dulu dan kini. Kompleks ini menempati lahan bekas sentra industri. Interiornya memajang karya-karya kontemporer, termasuk buatan Jeff Koons dan Damien Hirst. Sebagai yayasan, Fondazione Prada dicetuskan pada 1993 dengan tugas mengelola benda seni koleksi Miuccia Prada dan Patrizio Bertelli. “Fondazione Prada adalah sisi lain dari Miuccia. Dia tidak mau sisi mode dan minatnya pada dunia seni dicampuradukkan,” kata Beatrice Boatto, staf Fondazione Prada. fondazioneprada.org.

Baca juga: 18 Ruang Seni Pilihan Lima Tokoh Seni5 Ruang Seni di Jakarta

Beberapa koleksi Gucci yang dipamerkan di Gucci Museo, Florence.

Gucci Museo, Florence
Museum ini menyediakan zona khusus pergelaran seni, tapi bukan itu fokusnya. Diresmikan bertepatan dengan perayaan 90 tahun Gucci, Gucci Museo bertujuan mengisahkan perjalanan rumah mode Italia ini sejak dirintis di Florence. Magnet terbesarnya ialah pameran produk ikonis dan kisah penciptaannya, termasuk bagaimana merek ini digemari oleh para selebriti perempuan seperti Grace Kelly dan Jackie Kennedy. Sesuai dengan misi napak tilas itu, Gucci Museo bersarang di Palazzo della Mercanzia, bekas pengadilan perdata warisan abad ke-14. guccimuseo.com.

Fasad megah Fondation Cartier, Paris. (Foto: Luc Boegly)

Fondation Cartier, Paris
Gudangnya menampung hampir 1.500 karya buatan 350 seniman, yang ditampilkan bertahap lewat pameran yang terjadwal. Akhir tahun lalu, tempat ini menggelar Southern Geometries, sebuah eksplorasi atas seni geometris Amerika Latin. Tapi yang menarik dari Fondation Cartier bukanlah inventorinya semata. Institusi ini juga rutin menggelar pameran berisi karya komisi baru dari beragam disiplin, termasuk fotografi. Gedungnya yang menyerupai rumah kaca—kreasi apik dari Jean Nouvel—juga senantiasa hidup saat berlangsungnya Nomadic Nights, ajang reguler yang fokus pada seni pementasan. Jika tak ada acara, tamu bisa mampir di kebunnya yang didesain oleh seniman Lothar Baumgarten. fondationcartier.com.

Beberapa kreasi Giorgio Armani di lantai dua Armani/Silos.

Armani/Silos, Milan
Nama Silos dipilih karena gedung yang ditempatinya dulu berfungsi menyimpan makanan—bagian vital dari hidup yang, menurut Giorgio Armani, sama pentingnya dengan busana. Museum ini bersemayam di kawasan trendi Tortona. Selain ruang pamer, interiornya menampung kafe dan toko suvenir. Sebagaimana Gucci Museo, Armani/Silos merekam kiprah pemiliknya. Pengunjung bisa menemukan ratusan busana dan aksesori kreasi Giorgio sejak 1980, ditambah arsip berisi sketsa, iklan, serta kliping. “Mengingat seperti apa kami di masa lalu dapat membantu untuk memahami seperti apa kami di masa depan,” ujar Giorgio dalam siaran persnya. armanisilos.com.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Maret 2019 (“Lini Seni”).

Comments