6 Hotel Tertua di Bali

Sejumlah hotel dari babak awal pariwisata Bali masih beroperasi. Kamar-kamarnya yang dulu ditiduri Charlie Chaplin hingga David Bowie masih disewakan. Mengunjunginya tak cuma melarutkan kita dalam nostalgia, tapi juga mengingatkan bagaimana (dan oleh siapa) industri turisme dirintis di pulau ini.

Gapura Handara Golf Resort yang menjadi salah satu objek foto paling populer di Bali.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Johannes P. Christo

Turis yang ingin pantai,” kata Ida Bagus Kompiang dalam buku Pasangan Pionir Pariwisata Bali, “tidak mungkin menginap di Denpasar.” Atas dasar itu, pada 1956, pengusaha tekstil ini melakukan sesuatu yang tidak terbayangkan oleh satu pun orang Bali kala itu: membuka hotel di Sanur. Di lahan satu hektare, Kompiang mengerek 10 bungalo. Arsitekturnya berbentuk lumbung. Dia menamai propertinya Hotel Segara Beach.

Keinginan memiliki hotel di pantai tentu terdengar lumrah saat ini. Tapi, dulu, niat itu menuntut nyali besar. Pada 1950-an, pesisir Sanur dibalut belukar. Tidak ada air bersih. Tidak ada listrik. Segara terpaksa mengandalkan genset yang beroperasi hingga tengah malam. Absennya infrastruktur itu lantaran pantai memang area yang dihindari. Pantai dianggap keramat, dan Pantai Sanur lebih angker citranya lantaran dinilai sebagai sentra ilmu gaib. “Dulu kakek diejek orang. Ada yang bertanya, ‘Siapa yang mau menginap di sana? Leak?’” kenang Ida Bagus Kharisma Wijaya, cucu Kompiang.

Kiri-kanan: Atap bar yang terinspirasi pura di Segara Village, penginapan yang terus dikelola oleh keluarga pendiri hingga kini; seorang staf sedang membersihkan taman di Segara Village, properti yang didirikan oleh Ida Bagus Kompiang pada 1956 di Sanur.

Tapi pertaruhan itu terbayar. Pada 1957, Segara mulai menerima tamu asing, mayoritas diplomat, hingga hotel ini pun dijuluki “hotel diplomat.” Di periode itu, Sanur, pesisir terdekat dari pusat pemerintahan di Denpasar, memang cuma memiliki Pesanggrahan Sindhu milik perusahaan pelayaran Belanda KPM. Di luar itu, hanya ada segelintir properti milik ekspatriat, salah satunya rumah pelukis Le Mayeur.

Membaca kisah Kompiang seperti menyurutkan waktu ke zaman ketika turis merupakan kata yang asing. Tapi dari nostalgia inilah kita mendapati betapa pohon pariwisata Bali sejatinya turut disemai oleh orang-orang “kecil” dengan mimpi besar. Segara terus dikenang sebagai tonggak penting dalam industri perhotelan. Penginapan ini juga membuka jalan bagi kelahiran hotel-hotel lain. Seiring waktu, Sanur, pesisir angker yang awalnya dihindari, merekah jadi salah satu kawasan paling elite di Bali.

Segara Beach masih beroperasi hingga kini, tapi namanya sedikit berbeda—Segara Village. Menginap di bungalonya yang bercat putih, saya merasa melakoni napak tilas, walau hotel ini sebenarnya sudah jauh melangkah dari masa lalunya. Semak telah diganti taman. Listrik menyala nonstop. Bukti sejarah yang tersisa hanyalah lima unit bungalo jineng warisan Kompiang. “Beberapa tamu pelanggan tidak ingin bangunan ini diubah,” ujar Kharisma, yang sejak 2003 mewarisi hotel kakeknya.

Baca juga: 6 Hotel Baru di BaliTur Unik Membuat Perhiasan di Bali 

Kiri-kanan: Sepasang turis di pantai yang terhampar di depan Grand Inna Bali Beach, hotel bintang lima pertama
di Bali yang diresmikan pada 1966; kolam renang di Segara Village.

Dalam brosurnya, Segara Village membanggakan reputasinya sebagai hotel yang dikelola keluarga. Satu fakta yang luput dijelaskan, hotel ini sebenarnya sudah bergeser beberapa meter dari lokasi awalnya. Lahan orisinalnya diakuisisi Bali Beach Hotel, properti bersejarah lainnya di Bali.

Jika Segara lahir dari inisiatif lokal, Bali Beach murni proyek pemerintah. Hotel ini awalnya menempati lahan pemakaman di antara Segara Beach dan rumah Le Mayeur. Bermodalkan dana pampasan perang, hotel dikerek pada 1963, tahun yang kelewat panas secara harfiah dan politis: Gunung Agung meletus, sementara perpolitikan Jakarta sedang kisruh.

Keputusan membeli Segara bertolak dari logika sederhana: seluruh staf Bali Beach mesti dipersiapkan sebelum hotel beroperasi, dan Segara paling ideal dari segi jarak sebagai wadah pelatihan. Terlebih, Bung Karno dan Kompiang sudah saling kenal. Tiap kali Presiden ke Bali, Kompiang kerap ikut dalam rombongan penjemput. Untuk negosiasi pembelian Segara, Bung Karno mengutus Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Ketua Dewan Pariwisata Indonesia.

Pada 1966, sebuah periode yang juga sarat gonjang-ganjing, Bali Beach diresmikan, sementara Kompiang merintis Segara di lokasi baru, terpisah satu jalan dari lahan sebelumnya. Bali Beach kini bernama Grand Inna Bali Beach. Properti ini bukan hanya menyandang gelar hotel bintang lima pertama di Bali, tapi juga pencakar langit pertama (dan terakhir) di pulau ini. Bangunannya berlantai 10. Ia lahir sebelum regulasi tinggi gedung diberlakukan.

Saya sempat menginap di sini pada 2017, lalu kembali bertamu April silam. Di salah satu lantainya, kamar mendiang Bung Karno masih dirawat. Di sisi selatan bangunan utama, ada sebuah vila yang dihiasi beberapa helai bendera. Banyak tamu berziarah ke sini untuk melayangkan sesajen. Tatkala Sanur telah menjadi sentra wisata, vila mistis ini seolah menghidupkan citra keramat masa lalunya.

Comments