5 Tempat Baru di Bali

Interior Aya Street.

AYA Restaurant | Street Art Gallery

Kuliner Peru tengah menjadi tren di kancah kuliner Tanah Air. Setelah Henshin dan Fat Shogun di Jakarta serta Above Eleven di Bali, satu lagi restoran yang khusus menyajikan kuliner Peru hadir di Bali. Aya Restaurant | Street Art Gallery buka sejak awal September 2017 dan bersarang di Jalan Petitenget.

Restoran yang juga merangkap sebagai galeri seni tersebut merupakan kreasi dari Juano Suárez dan Rafael Sanchez, otak kreatif di balik kesuksesan Shelter dan Nalu Bowls—keduanya ada di Bali juga. AYA mengusung desain pop art dengan permainan warna-warna terang yang dominan. Desain interiornya digarap oleh Helen Milne, desainer pakaian yang pernah menyabet banyak penghargaan internasional.

Memasuki AYA, pandangan mata langsung dimanjakan dengan interior bergaya kontemporer. Permainan desainnya seakan ingin menunjukkan bahwa restoran ini tak sekadar memuaskan indera pengecap, namun juga menggugah naluri seni setiap pengunjung yang datang. Di beberapa sudut terdapat beragam karya seni kontemporer yang menghiasi interior. Salah satu pencuri perhatian adalah mural berukuran besar karya D*Face, seniman asal London. Selayaknya galeri, seluruh karya seni yang dipamerkan dapat dibeli oleh tamu. Guna menghindari kesan monoton, koleksinya dirotasi setiap beberapa bulan.

Kiri-kanan: nasi goreng ala Peru; sajian pembuka terbuat dari semangka dan jamur truffle.

Menurut Rafael, tempat makan yang berlokasi di Seminyak ini menawarkan konsep restoran fine dining dengan suasana kasual. Sajian diracik langsung oleh Marco Cuevas, dengan mengadaptasi sejarah bangsa Peru yang tercipta dari perkawinan dua bangsa yaitu suku Inca dan imigran asal Asia. Fokus kreasi kuliner ini berangkat dari akulturasi yang kemudian dikenal sebagai Peruvian-Japanese (Nikkei) dan Peruvian-Chinese (Chifa). Koki asal Peru ini sukses menampilkan keduanya dengan menggunakan campuran bahan lokal serta disajikan di atas wadah keramik.

Untuk pemanasan, coba pesan Amazonas ceviche yaitu hidangan laut segar dengan potongan asparagus, quinoa, dan minyak zaitun;  dan lomo saltado, daging sapi tenderloin goreng yang dipadukan dengan bawang merah dan saus tiram. Rasanya cukup segar dan berbumbu dengan presentasi yang memanjakan mata.

Menu selanjutnya adalah Chaufa Ayahuasca, yaitu nasi goreng ala Peru dengan isian seafood, daging babi, serta ayam. Rasanya gurih dengan sedikit sensasi pedas. Sebagai penutup, saya memilih Roasted Watermelon Tiradito, semangka bakar dengan cita rasa asin dan segar serta aroma wangi truffle.

AYA juga menyediakan koleksi koktail dan wine yang cukup impresif dari Ceviche Bar. Sebagai restoran Peru, pilihan koktail yang dihadirkan diracik terinspirasi pisco, minuman khas Peru. Sebagai teman minum, tersedia juga beragam pilihan tapas. Jl. Petitenget No.99 A, Seminyak; 0813-3763-4814; ayastreet.com.

Interior area makan di Som Chai.

Som Chai

Seperti kuliner Indonesia, kuliner Thailand selalu menarik untuk dieksplorasi. Berangkat dari ide tersebut, koki selebriti di Bali, Will Meyrick menawarkan beragam menu autentik Thailand di dalam proyek terbarunya, Som Chai.

Som Chai bersemayam di Jalan Raya Kerobokan. Menghuni bangunan yang dulunya merupakan restoran Republik45. Layout bangunan tak diubah, namun interior dan eksterior diperbarui. Melangkah ke dalam gedung, tamu akan disambut dengan area bar Som Chai Drink. Ruangan berkapasitas 80 orang tersebut mengusung desain yang elegan dengan sofa-sofa besar dan mebel kayu bergaya klasik. Sejumlah ayunan terlihat menggelantung di sela-sela ruang duduk. “Konsepnya fun. Seperti kabaret. Tiap malam akan ada penari-penari di ayunan yang menyapa,” tutur Will. Jika malam kian larut, tempat ini berubah menjadi bar dengan penampilan live music atau DJ. Menu minumannya pun impresif.

Melangkah jauh ke dalam, terdapat area makan yang mengusung desain lapang tanpa sekat dengan langit-langit menjulang. Di beberapa sisi disematkan jendela-jendela berukuran raksasa serta potret raja Thailand.

Tak seperti restoran Thailand kebanyakan, Som Chai fokus ke menu-menu langka yang terinspirasi dari era Kerajaan Siam. “Butuh waktu kurang lebih setahun menggali resep-resepnya. Saya pergi langsung ke Thailand dan bertualang di sana mencari makanan tradisional khas Thailand,” ungkap pria yang gemar bertualang tersebut. Guna menghadirkan cita rasa autentik yang diinginkan, pria keturunan Skotlandia tersebut tak segan menghadirkan tungku tanah liat, pemanggang arang, dan kayu bakar sebagai bagian dari proses pengolahan makanan.

Kiri-kanan: Suasana bar yang remang-remang menambah kesan intim; penari kabaret di Som Chai.

Sebagai pembuka, kami memilih hidangan daging bebek yang disajikan dengan semangka bakar. Rasanya gurih dan segar. Untuk menu selanjutnya, kami memesan selada daging sapi;  kari merah geang choo chee yang berisi udang; ho mok fish bamboo, ikan kukus yang disajikan dalam bambu; serta kari merah daging sapi dengan buah durian muda. Seluruh hidangan terasa nikmat di lidah. Bumbunya pas dengan rasa kari yang tak terlalu menohok perut. Sebagai pencinta sambal, Will tahu tingkat kepedasan yang diinginkan oleh para tamunya. Seluruh hidangan utama disajikan dengan nasi putih atau merah. Sebagai penutup, hadir dessert platter yang berisi tujuh jenis hidangan penutup khas Thailand.

Will memang selalu serius dalam menggarap proyek-proyeknya. Usai sukses dengan Sarong, Mama San, Hujan Locale, dan Tiger Palm, kali ini ambisinya untuk menghadirkan restoran Thailand terbaik di Bali—dan sejauh ini berhasil. Som Chai buka dari pukul 17:30 hingga 1 dini hari. Jl. Raya Kerobokan No. 86 A, Badung; 0878-8866-1945; somchaiindonesia.com.



Comments

Related Posts

10457 Views

Book your hotel

Book your flight