48 Jam di Surabaya

Kota industri pertama di zaman Hindia Belanda, kota terbesar kedua di Indonesia, dan kota pelabuhan. Dalam aspek bisnis, Surabaya punya reputasi yang menyilaukan. Tapi, sebagai destinasi liburan, ia belum benar-benar bersinar, padahal tempat wisatanya cukup berlimpah.

KMP Tongkol membawa penumpang dari Tanjung Perak menuju Pelabuhan Kamal.
KMP Tongkol membawa penumpang dari Tanjung Perak menuju Pelabuhan Kamal.

Teks oleh Anitha Silvia
Foto oleh Adi Fikri

SABTU

07:00 Tanjung Perak
Pelabuhan adalah bagian integral dalam sejarah dan kehidupan Surabaya. Menyaksikannya adalah agenda wajib dalam tiap kunjungan ke kota bandar ini. Kunjungi Pelabuhan Tanjung Perak (pelindo.co.id) di sisi utara kota. Dari Dermaga Ujung, tersedia feri menuju Pulau Madura. Dengan membayar hanya Rp5.000, kita bisa menikmati pesiar santai selama 20-30 menit, menghirup udara, menyaksikan kelimun kapal di Selat Madura dan menara syahbandar yang beratap hijau. Merapat di Pelabuhan Kamal, gerbang utama Madura sebelum ada Jembatan Suramadu, cegat angkutan umum berwarna biru muda, Daihatsu edisi 1970-an, lalu turun di Pasar Kamal Baru untuk menikmati segarnya air kelapa muda.

10:00 Distrik Eropa
Penampilan kawasan ini tidak banyak berubah sejak era Hindia Belanda. Isinya kantor jawatan, perbankan, serta kantor dagang ekspor-impor. Tur arsitektur di sini bisa dimulai dengan mampir di Kantor BNI Jembatan Merah untuk mengagumi lobinya yang dipulas kuning. Sejenak berjalan kaki dari sini, ada Museum Bank Indonesia (bi.go.id) yang menempati bekas kantor De Javasche Bank. Usai melewati Jembatan Merah Plaza yang menjajakan garmen lokal, teruskan tur ke selatan guna melihat bangunan dua lantai Algemeene karya Hendrik Petrus Berlage.

Menikmati makan siang sop buntut di Depot Ganefo.
Menikmati makan siang sop buntut di Depot Ganefo.

12:00 Pecinan
Di Surabaya, “Eropa” dan “Tiongkok” hanya terpisahkan oleh seutas jembatan. Dari kawasan Eropa, seberangi Jembatan Merah untuk menjangkau Pecinan. Di Jalan Kembang Jepun, bulevar utama di sini, terdapat Kantor Bank Mandiri yang menempati gedung dua lantai bekas Bank Escompto, lengkap dengan dinding berlogo kota-kota perdagangan di Hindia Belanda dan Eropa, termasuk Makassar, Semarang, Surabaya, Berlin, dan Amsterdam. Lima menit dari sini, Depot Ganefo (Jl. Kalimati Kulon 36) siap menambal perut dengan sop buntut. Bersarang di lorong kompleks ruko, restoran ini menghadirkan sekaligus pengalaman kuliner dan arsitektur yang berkesan.

Kiri-kanan: Kantor BNI KCP Jembatan Merah, menempati bekas kantor dagang ekspor-impor asal Amsterdam; Pasar Pabean yang dibangun awal abad ke-20 dengan gaya bangunan menyerupai hanggar.
Kiri-kanan: Kantor BNI KCP Jembatan Merah, menempati bekas kantor dagang ekspor-impor asal Amsterdam; Pasar Pabean yang dibangun awal abad ke-20 dengan gaya bangunan menyerupai hanggar.

14:00 Pasar Pabean
Pasar tertua di Surabaya ini beroperasi hampir 24 jam sepanjang tahun. Pasar dengan arsitektur yang menyerupai hangar ini terbagi dalam empat zona utama: zona sayur-mayur, bawang, ikan, dan garmen. Warna dan aromanya kontras. Di zona bawang misalnya, mata akan dihibur (dan disengat) oleh warna merah yang meriah. Perhatikan pula sisi unik lain berupa para burung angkut yang didominasi kaum wanita Madura. Zona hasil laut juga tidak kalah mengagumkan dengan keriuhan para pedagang dan pemasok. Di tengah Surabaya yang ditaburi mal, Pasar Pabean bagaikan sepenggal nostalgia yang penuh cerita.

Toko Kadir Batcha, Jalan Panggung 36, berdagang emas dan perhiasan.
Toko Kadir Batcha, Jalan Panggung 36, berdagang emas dan perhiasan.

16:00 Kampung Arab
Menembus gang di Kampung Margi yang didiami beberapa keluarga keturunan India muslim, kita akan menyaksikan rumah-rumah tua berlanggam Eropa, Tiongkok, dan Melayu berjajar rapi dalam kondisi terawat. Dari sini, susuri Jalan KH Mas Mansyur menuju Masjid Ampel dengan melalui gang-gang yang memikat mata. Dari Masjid Ampel yang disemuti ribuan peziarah, temukan Gang Ampel Menara. Di sini, saban sore, banyak anak bermain di sepanjang gang. Untuk sesi ngopi, Warkop kopi Sarkam (Jl. Nyamplungan) punya racikan yang rentan membuat kecanduan. Untuk menutup tur dengan perut yang bahagia, masuki Gang Ampel Kesumba Pasar untuk menikmati nasi campur Madura di warung kaki lima atau kambing oven di Depot Yaman.

MINGGU

08:00 Kampung Genteng Candirejo
Satu keunikan dari tata kota Surabaya adalah keberadaan sejumlah kampung di pusat kotanya. Salah satunya terselip hanya 10 menit berjalan kaki dari Hotel Majapahit. Untuk menjangkaunya, kita akan melewati banyak toko oleh-oleh di sepanjang Jalan Genteng Besar. Sebelum Pasar Genteng, belok kiri, maka kita akan tiba di Kampung Genteng Candirejo dengan disambut oleh atmosfer rindang: tanaman-tanaman gantung, pohon belimbing wuluh, pohon markisa, pohon asam Jawa, dan kolam lele. Habiskan Minggu pagi di rumah Ibu Wiwik (No.42), pesan minuman herbal serai apel dan sinom, lalu nikmati obrolan santai bersama warga.

Rumah HOS Tjokroaminoto, dapur nasionalisme, Jalan Peneleh VII no. 29-31.
Rumah HOS Tjokroaminoto, dapur nasionalisme, Jalan Peneleh VII no. 29-31.

10:00 Kampung Peneleh
Dari Jalan Gemblongan, belok kiri ke Jembatan Peneleh, maka kita akan menemukan rumah H.O.S Tjokroaminoto (Jl. Peneleh, Gang 7), sebuah dapur nasionalisme di mana para pemimpin dan pemikir muda seperti Soekarno, Musso, dan Kartosoewirjo tinggal satu atap dan berdiskusi mengenai masa depan Tanah Air. Kampung Peneleh dibelah puluhan gang berisi beragam kejutan: makam warga Eropa, batu nisan di tengah gang, rumah dengan ornamen Hindu Bali, serta rumah kelahiran Soekarno (Jl. Pandean 5 No.40). Keluar dari Gang 5, belok kiri dan temukan rumah Bacang Peneleh (Jl. Peneleh 92) untuk melahap camilan yang mengenyangkan.

Kios snack dan permen di Pasar Atom.
Kios snack dan permen di Pasar Atom.

13:00 Pasar Atom
Pasar Atom, pasar modern di Pecinan, eksis sejak 1972. Arsiteknya, Harjono Sigit, cucu H.O.S Tjokroaminoto, memberi dua sentuhan “fiksi ilmiah” yang janggal: menara yang dimahkotai instalasi atom, serta tangga yang seolah melayang. Selain dagangan yang beragam, misalnya perhiasan dan obat-obatan, Pasar Atom menawarkan jasa penjahit dan kolam renang. Jika perut masih lapar, pasar ini memiliki suguhan yang cukup lengkap, contohnya Cakue Peneleh, Bakwan Kapasari, Lontong Mie Ny. Marlia, dan Santong Cwie Kiauw Mie. Tak sulit memahami mengapa pasar ini mengusung semboyan, “Ke Surabaya belum lengkap kalau belum ke Pasar Atom.”

Berfungsi sebagai perpustakaan, ruang kerja bersama, dan pertemuan untuk bertukar pengetahuan sambil menikmati kopi dan teh.
Berfungsi sebagai perpustakaan, ruang kerja bersama, dan pertemuan untuk bertukar pengetahuan sambil menikmati kopi dan teh.

16:00 C2O Library & Collabtive
Perpustakaan swadaya ini mengoleksi lebih dari 7.000 buku, majalah, komik, serta zine dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Tempat yang berusia 10 tahun ini juga memfasilitasi aneka kegiatan, mulai dari pasar sehat, diskusi buku, pameran seni, pemutaran film, hingga tur jalan kaki. Merangkap wadah belajar dan bertukar pengetahuan, C2O Library & Collabtive (Jl. Dr. Cipto 22; c2o-library.net) dilengkapi fasilitas seperti ruang bekerja, ruang belajar, ruang pertemuan, serta galeri.

Lantai dasar Pasar Keputran yang meriah dengan sayur mayur dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Lantai dasar Pasar Keputran yang meriah dengan sayur mayur dari berbagai daerah di Jawa Timur.

19:00 Pasar Keputran
Pasar sayur-mayur terbesar di Surabaya ini bersemayam di pusat kota. Pasar ini melayani kaum nokturnal. Menurut H.W. Dick, penulis buku Surabaya, City of Work, jam-jam selepas tengah malam, saat kota terlelap pulas, Pasar Keputran justru riuh oleh aktivitas perdagangan cabai, bawang, jeruk nipis, sayur-mayur—presentasi yang baik atas kekayaan agraris Jawa Timur.

Comments