48 Jam di Siem Reap

Siem Reap, episentrum turis di Kamboja, tak cuma menawarkan Angkor Wat. Kota kecil ini juga punya ratusan rahasia yang menarik ditelusuri.

Seorang wanita sibuk memilih baju di Old Market.

MINGGU

08:00 Old Market
Tak perlu memesan kamar hotel dengan paket sarapan, sebab Siem Reap punya banyak tawaran seru untuk membuka hari, salah satunya Old Market. Dua menu populer di sini ialah lort cha, mi goreng khas lokal, serta num pang, roti lapis ala Prancis. Usai memuaskan perut, hibur mata dengan melewati para penjaja suvenir yang bertaburan di pasar tertua di Siem Reap ini. Satu rekomendasi oleh-oleh bagi mereka yang hobi masak: prahok, petis beraroma tajam yang diracik dari fermentasi ikan.

Deretan kafe dan restoran yang mendiami bangunan kolonial peninggalan Perancis di Kandal Village.

10:30 Kandal Village
Kontras dari Old Market, Kandal Village menawarkan dagangan yang lebih kontemporer. Walau telah merekah sejak empat tahun silam, distrik kreatif ini belum tercantum dalam buku panduan turis—dan itu artinya jalan-jalan yang lebih nyaman dan lengang. Tempat ini dihuni kafe, galeri, serta butik milik desainer lokal dan ekspat, contohnya galeri seni Tribe Cambodia dan butik desain Trunkh (trunkh.com) milik Douglas Gordon, salah seorang tokoh penggerak Kandal Village.

Moloppor Cafe bersemayam di depan Sungai Siem Reap.

14:00 Moloppor Cafe
Siem Reap merekah di tepi sungai, dan wadah santai untuk menyerap kehidupan di sungai ialah kafe-kafe yang bertengger anggun di tepinya, salah satunya Moloppor Cafe (molopporcafe.com). Sajiannya beragam, mulai dari Jepang, Asia, Italia, hingga lokal. Tapi tawaran terbaik restoran ini sebenarnya amok, kari khas Kamboja dengan daging ayam atau ikan. Pesaing kafe ini, Biolab Cafe (biolabcafe.com), mengusung gaya trendi bertema laboratorium. Cocok untuk relaksasi di petang yang terik, tempat ini mengandalkan kopi yang—sesuai tema desainnya—disajikan dalam gelas laboratorium. Di lantai dua kafe terdapat ruang kerja dengan kecepatan internet di atas rata-rata standar lokal.

Salah satu pos apung yang dipenuhi turis penikmat senja Tonle Sap.

15:30 Tonle Sap
Marak menghiasi kartu pos, Tonle Sap adalah danau fotogenik yang lazim disinggahi dalam lawatan ke Siem Reap. Untuk mengarunginya, Anda bisa menyewa kapal privat atau menaiki kapal besar bersama rombongan turis lain. Sepanjang pesiar akan terlihat rumah-rumah apung yang mayoritas ditinggali kaum nelayan etnis Cham dan Vietnam. Mendarat di pos berikutnya, lanjutkan tur dengan mendayung kano menembus hutan bakau. Jangan terlalu larut, karena hidangan penutup di Tonle Sap ialah menyaksikan surya yang tenggelam di batas horizon danau.

Resep grilled chicken curry khas Kamboja disajikan cantik di Pou Kitchen.

19:00 Pou Kitchen
Pou” berarti “paman” dalam bahasa Khmer. Tapi Mengly, koki sekaligus pemilik restoran ini, sebenarnya baru berusia 20-an. Beraliran haute cuisine, Pou Kitchen (poukitchen.com) memberi tafsir segar pada hidangan tradisional Kamboja dan memberinya sentuhan Barat. Meski tergolong muda, Mengly merupakan bintang di dunia kuliner lokal. Dia pernah melatih koki restoran Spoons dan mewakili Kamboja di ajang Asian Food Festival 2014. Kreasi andalannya antara lain grilled chicken curry dan grilled river fish dengan bahan ikan segar dari Danau Tonle Sap.

Performa kelompok sirkus Phare yang menghibur para tamu.

20:00 Phare Circus
Mungkin terdengar janggal, tapi Siem Reap punya grup sirkus yang cukup terkemuka: Phare (pharecircus.org). Dengan skenario yang terinspirasi sejarah, realitas kontemporer, hingga cerita rakyat, grup asuhan LSM Phare Ponleu Selpak ini mengombinasikan musik, teater, dan akrobat. Hingga 4 Maret 2019, Phare membawakan pentas bertajuk Khmer Metal di Phare Circus Ring Road, sekitar dua kilometer dari Old Market.

Comments