48 Jam di Medan

Dari tahu isi hingga soto Sinar Pagi, Medan memang mengoleksi kuliner yang menggiurkan. Tapi wisata makan bukanlah daya tariknya satu-satunya. Kota terbesar keempat di Indonesia ini juga menyimpan objek sejarah yang menarik, mulai dari istana Melayu, gereja Tamil, hingga lift pertama di Sumatera.

Lift pertama di Sumatera bersemayam di Gedung London Sumatera.

Oleh Eka Dalanta
Foto oleh Lana Priatna

SABTU

09:00 Gedung London Sumatera
Pada Sabtu pagi, jalan-jalan Kota Tua Kesawan relatif lengang, sehingga kita lebih leluasa untuk menikmati wisata sejarah. Salah satu ikon tempat ini adalah Gedung London Sumatera (Jl. Jenderal Ahmad Yani 2, Kesawan), bangunan bercat putih yang dikerek pada 1906 dan pernah dihuni kantor perusahaan perkebunan karet Harrison & Crossfield. Interiornya masih menyimpan lift pertama di Sumatera. Masih terawat dan masih berfungsi, lift ini akan menerbangkan ingatan kita ke film-film klasik.

Pintu masuk Tjong A Fie Mansion dengan arsitektur menarik.

10:00 Tjong A Fie Mansion
Saksi masa lalu Medan lainnya, Tjong A Fie Mansion (Jl. Jenderal Ahmad Yani 105, Kesawan; 0813-7516-0031; tjongafiemansion.org) adalah rumah warisan keluarga Tjong A Fie, seorang saudagar yang berpengaruh pada abad ke-19. Arsitekturnya mengombinasikan gaya Tionghoa, Eropa, Melayu, dan Art Deco. Di kedua lantainya, rumah yang dikonstruksi pada 1895 ini menampung 35 kamar. Mengarungi interiornya, kita bisa mempelajari riwayat Tjong A Fie dan kebudayaan Tionghoa melalui aneka foto, lukisan, dan perabot.

Restoran ini konsisten pada dekorasi lawas dan masih menggunakan tungku kayu tahun 30-an.

12:30 Tip Top Restaurant
Tiap kota bandar yang bersejarah lazimnya melestarikan restoran yang menawarkan nostalgia. Jika di Jakarta ada Cafe Batavia dan di Semarang ada Toko Oen, maka Medan memiliki Tip Top Restoran (Jl. Jenderal Ahmad Yani 92 A-B; 061/4514-442; tiptop-medan.com). Menu andalannya adalah kue-kue yang dipanggang dalam tungku lawas, serta es krim rumahan dengan rasa yang tak kalah lawas. Mebelnya, taplak mejanya, serta seragam pramusajinya seolah membawa kita menyurutkan waktu. Di antara para tamunya, ada kalanya kita bisa menemui turis asal Belanda. Mungkin mereka sedang melakoni napak tilas atau melacak leluhurnya yang bekerja di kebun-kebun Tanah Deli.

Little India ala Medan dapat ditemukan di Kampung Madras.

14:00 Kampung Madras
Permukiman ini awalnya disebut Kampung Keling. Sejak 2008, namanya diganti jadi Kampung Madras (Jl. Zainul Arifin). Kendati demikian, julukannya tak berubah: Little India. Permukiman etnis keturunan India ini menampung banyak toko rempah, butik kain sari, pedagang roti canai, serta juga restoran yang menyuguhkan aneka hidangan kari. Di waktu-waktu tertentu, kita bisa menyaksikan upacara Hindu di Shri Mariamman, kuil dari abad ke-19 yang dicat keemasan, dinaungi vimana, serta dipercantik relief, patung, dan ukiran yang menakjubkan.  

Pengunjung dapat menyaksikan langsung proses penggorengan tahu isi Ny. Endang.

16:00 Tahu Isi Ny. Endang
Bersama tahu Sumedang, tahu gejrot Cirebon, dan tahu bulat Tasikmalaya, tahu isi Medan memiliki tempat khusus dalam peta tahu nasional. Salah satu produsennya yang paling kondang adalah Tahu Isi Ny. Endang (Jl. Muara Takus; 0853-5880-8265). Toko berusia 30 tahun ini menghasilkan tahu isi legit yang bercita rasa manis dengan harga Rp1.500 per butirnya. Pesaingnya, Tahu Isi Haji Bejo, berada di kawasan yang sama.

Berbeda dengan kedai kopi pada umumnya, Omerta Koffie justru tidak dilengkapi koneksi WiFi.

17:00 Omerta Koffie
Medan bukan produsen kopi, tapi kota ini menikmati status sebagai bandar yang menampung dan menyalurkan biji-biji premium asal Sumatera. Dari lanskap itulah lahir banyak kedai, salah satunya Omerta Koffie (Jl. Wahid Hasyim 9), pionir di bisnis specialty coffee. Nama-nama kopi seperti Lintong, Mandailing, Sidikalang atau Gayo tentu sudah lazim terdengar. Di Omerta, varian-varian itu dibedah lebih spesifik menjadi, sebut saja, Aji Jahe, Dolok Sanggul, Janji Maria, Naman Teran, dan Ronggur. Kedai ini tidak dilengkapi koneksi internet. Tujuannya untuk mengembalikan fungsi kopi sebagai lubrikan sosial bagi diskusi verbal.

Semangkuk soto kaya rempah siap memanjakan lidah pengunjung.

MINGGU

08:00 Rumah Makan Sinar Pagi
Di kota kuliner sekaliber Medan, sarapan di hotel sangat tidak disarankan. Rumah Makan Sinar Pagi (Jl. Sei Deli 2 D; 061/6614-943) adalah salah satu alasannya. Bayangkan hidangannya: nasi putih panas yang disiram kuah soto kaya rempah dan dipayungi rempeyek udang renyah. Warung ini berada di dekat patung Guru Patimpus, pendiri kota Medan. Anda bisa datang pula di jam makan siang, tapi bersiaplah menghadapi antrean panjang.

Pengunjung yang sedang berfoto di dalam Istana Maimun.

09:30 Istana Maimun
Puteri Hijau, tokoh mitologis lokal, tersohor akan kecantikannya. Begitu pula Istana Maimun (Jl. Brigjen Katamso), istana Kesultanan Melayu Deli yang dibangun oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Desainnya menawan, perpaduan antara langgam Melayu, Spanyol, India, Timur Tengah, dan Italia. Di kompleks istana ini terdapat bangunan beratap ijuk yang menyimpan pecahan Meriam Puntung. Menurut legenda setempat, meriam ini merupakan penjelmaan adik Puteri Hijau, Mambang Khayali.

Grha Maria Annai Velangkanni terbuka bagi siapapun, bahkan bagi para wisatawan yang ingin melihat eksterior gereja.

11:30 Graha Maria Annai Velangkanni
Jangan menilai buku dari sampulnya. Walau menyerupai kuil Hindu, Graha Maria Annai Velangkanni (Jl. Sakura III 7, Tanjung Selamat; 061/8201-943; velangkanni.com) sejatinya sebuah gereja Katolik. Desain janggal itu disebabkan pendirinya adalah umat Katolik Tamil. Undakan dan patung-patung para rasul yang menghiasi bangunan dibuat bergaya Hindu, sementara gapuranya dihiasi miniatur rumah adat Batak Toba dan Karo. Memasuki kompleks gereja, kita akan disambut dua utas tangga yang dibentuk melengkung layaknya tangan yang hendak memeluk. Menurut Pastor James Bharataputra, pendiri gereja, tangga ini melambangkan keinginan gereja merangkul siapa saja.

Seorang penjual di Pajak Melati.

13:00 Pajak Melati
Skena belanja Medan masih kalah terkenal dari Bandung atau Surabaya. Tapi ada satu tempat menarik di sini bagi Anda yang gemar berbelanja barang-barang unik: Pajak Melati (Jl. Flamboyan Raya, Tanjung Selamat). Lazim disingkat Pamela, pasar loak terbesar di Medan ini menjajakan aneka barang bekas seperti tas kulit, sepatu, dan ikat pinggang. Harganya sangat tergantung pada kemampuan negosiasi. Waktu terbaik untuk berbelanja adalah Selasa, Jumat, dan Minggu.

Comments