48 Jam di Kolkata

Awalnya bandar penting dalam jalur perdagangan opium, Kolkata kemudian merekah jadi pusat budaya di timur India. Dominique Lapierre, penulis asal Prancis, menjulukinya City of Joy.

Kiri-kanan: Rangkaian bunga joba phool (kembang sepatu) di pasar bunga Mallik Ghat; seorang pria membawa rangkaian bunga berwarna kuning.

Teks & foto oleh Fransisca Angela

SABTU

07:00 Mallik Ghat Flower Market
Hiruk pikuknya nonstop, aroma bunga menyengat, dan mata dimanjakan oleh warna-warna kembang marigold. Mallik Ghat (Strand Bank Road 1), salah satu pasar bunga termegah di Asia, memang memberikan pengalaman indrawi yang memukau. Tempat ini terbentang di kaki Jembatan Howrah, persis di tepian Sungai Hooghly. Di sinilah banyak warga berbelanja bunga untuk keperluan persembahan dan ritual. Mallik Ghat beroperasi sejak pagi hingga malam. Untuk suasana yang lebih lengang, datanglah sore hari.

Kedai historis Indian Coffee House di College Street.

09:00 Indian Coffee House
Konsep adda (kongko) warga Bengali diterjemahkan harfiah di sini. Cukup merogoh 18 rupee (Rp3.600) untuk secangkir kopi, tamu duduk berjam-jam sambil berdiskusi. Tapi Indian Coffee House (Bankim Chatterjee Street) bukan sekadar kedai. Gedung yang dihuninya punya tempat khusus dalam sejarah sebagai wadah rapat para pejuang kemerdekaan, penulis, juga kaum revolusioner. Beberapa benda peninggalan era kolonial masih tersimpan di interiornya. Sebelum pulang, kunjungi toko buku Chuckervertty Chatterjee di lantai tiga.

Memotret bangunan Victoria Memorial Park, kompleks megah berisi lebih dari 20 galeri.

11:00 Victoria Memorial
Berbahan marmer Makrana putih dan didirikan untuk mengenang seorang permaisuri, tak heran jika Victoria Memorial (victoriamemorialcal.org) kerap dibandingkan dengan Taj Mahal di Agra. Satu perbedaan yang menonjol, monumen megah ini dihuni lebih dari 20 galeri tematik yang menampung antara lain lukisan, patung, senjata, hingga karya sastra karangan William Shakespeare dan Omar Khayyam. Semuanya bisa dinikmati dengan membayar 500 rupee (Rp100.000).  

Interior 6 Ballygunge Place, restoran yang menyajikan masakan Bengali autentik dan menghuni rumah warisan keluarga Zamindar.

14:00 6 Ballygunge Place
Restoran ini menghuni rumah warisan keluarga Zamindar, julukan bagi penguasa di masa lampau. 6 Ballygunge Place (Dr Amiya Bose Sarani Rd 6, Ballygunge) menyuguhkan masakan Bengali yang dimasak dengan metode autentik seperti para ibu di rumah. Menu khasnya antara lain daab chingri, chingri chiney kebab, dan kosha mangsho. Seraya bersantap, mata akan dimanjakan oleh lukisan patachitra dan karya seni Madhubani khas Bengali. Jika ingin bercengkerama dengan warga, datanglah pukul tiga sore, waktu yang lumrah bagi mereka untuk makan siang.

Beberapa pengunjung tampak sedang menikmati koleksi seni yang ada di Academy of Fine Arts.

17:00 Academy of Fine Arts
Suguhan utamanya: kombinasi antara seni kontemporer dan pertunjukan khas Bengali. Academy of Fine Arts (academyoffinearts.in) menampung empat galeri dan sebuah auditorium. Tiap galerinya memajang antara lain lukisan, instalasi, serta foto. Jika ingin menyaksikan pertunjukan, tiket bisa dibeli di loket. Pulang dari sini, kunjungi kompleks budaya Rabindra Sadan yang terletak persis di sebelah. Sore hari ialah waktu yang populer bagi anak muda lokal berkumpul di sini.

Comments