4 Tempat Atraktif di Ubud

Berkat alamnya yang relatif masih asri, Ubud kerap dilirik oleh mereka yang mendambakan hidup bersentuhan langsung dengan alam. Kawasan ini memayungi beragam resor bintang lima, galeri seni, restoran, hingga studio yoga. Saban tahun jumlahnya semakin banyak, namun hanya segelintir yang mampu mempertahankan reputasinya. Berikut empat tempat atraktif di Ubud yang bisa Anda singgahi pada kunjungan selanjutnya:

Interior Seniman Coffee yang atraktif.

Seniman
Usianya masih seumur jagung, namun reputasinya sudah terkenal di kalangan pencinta kopi se-Nusantara. Alasannya: kopi yang disajikan sangat nikmat. Dua pendirinya, Rodney Glick dan David Sullivan, mengusung misi menyajikan kopi terbaik di Indonesia. Tak jarang, guna mewujudkannya, Rodney dan David beserta timnya kerap berkunjung ke sejumlah daerah di Indonesia guna mencari biji kopi terbaik. Interiornya pun digarap sederhana, namun atraktif. Kursi, misalnya, mengawinkan kursi plastik yang kerap ditemui di pasar dengan material kayu. Tentu saja bintang utama di Seniman adalah kopinya. Untuk biji kopi lokal, mereka menggunakan biji kopi asal perkebunan di Sumatera, Jawa, Bali, dan Flores. Sementara untuk kopi impor, mereka menggunakan produk dari Amerika Selatan dan Tengah serta Afrika.

Merujuk pada namanya, barista atau peracik kopi di sini dianggap sebagai seniman. Proses penyajian kopi dilakukan layaknya menggarap satu karya seni spektakuler. Salah satu yang cukup menarik adalah kopi cold brew, yakni kopi yang diproses antara 12 hingga 20 jam di suhu ruang dengan menggunakan air dingin guna menghasilkan minuman kopi yang bercita rasa kuat. Dari menu minumannya, salah satu yang terlaris adalah single-origin chocolate shake atau teh cold brew dipadu dengan buah tropis dan sayuran.

Jl. Sriwedari No. 5, Ubud; 0812-3607-6640; Seniman.

Program retret di Fivelements diakhiri dengan mandi air rempah di kolam mini yang terbuat dari sebongkah batu.

Fivelements
Ubud juga kerap menjadi destinasi wisata retret. Chicco dan Lahra Tatriele adalah salah satu penyedia jasa wisata tersebut. Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia spiritual Pulau Dewata, suami-istri itu mendirikan Fivelements. Di sini tamu bisa mengikuti bermacam program rejuvenasi diri dimulai dari meditasi, yoga, hingga aikido. Sejumlah programnya diakhiri dengan berendam di air rempah-rempah. Guna lebih memaksimalkan proses rejuvenasinya, Fivelements juga menyediakan beragam pilihan sesi spa dan perawatan kecantikan. Salah satu yang populer adalah Ida Pinggala yakni sesi spa yang menggunakan energi pemijat pria dan wanita untuk mengembalikan energi tamu. Tak heran bila Fivelements kerap disebut sebagain salah satu tempat terbaik untuk merasakan sesi retret ala Bali.

Puri Ahimsa Banjar Baturning, Mambal; 0361/469-260 & 0361/469-206; Fivelements.

Tony Raka di depan salah satu koleksinya.

Tony Raka Art Gallery
Jika Anda bosan dengan koleksi seni yang biasa saja, maka Tony Raka Art Gallery bisa jadi pilihan destinasi Anda selanjutnya. Galeri Tony Raka didominasi karya-karya seni bermotif tribal. Selain mewadahi koleksi-koleksi kuno, seperti galeri seni lainnya, galeri milik Tony Raka ini juga mengoleksi karya-karya seni modern dan kontemporer. Untuk karya-karya seni uzur, Tony mengumpulkannya dari berbagai daerah di Jawa, Toraja, dan Sulawesi, sedangkan karya seni modern dan kontemporer miliknya kebanyakan dibuat oleh seniman asal Bali. Pertama kali masuk, tamu akan disambut dengan puluhan karya seni modern dan kontemporer, masuk lebih jauh ke dalam, tamu akan menemukan karya-karya seni tua. Koleksi favoritnya adalah karya-karya kreasi Agung Mangu Putra, seniman Bali yang kerap menghasilkan karya-karya seni yang kerap kontroversial.

Jl. Raya Mas No. 86 Mas, Ubud; 0361/781-6785; Tony Raka Art Gallery.

Hidangan ala restoran Michelin yang bahannya diambil dari pertanian lokal.

Locavore
Banyak koki dari jaringan hotel internasional di Bali jatuh cinta pada Pulau Dewata kemudian mendirikan restoran independen. Seperti restoran Bali Asli di Karangasem, Locavore dikomandani oleh koki mantan properti jaringan Alila Hotels. Dapur Locavore dipimpin oleh mantan Executive Chef Alila Ubud, Eelke Plasjmeijer, yang bekerja sama dengan Ray Adriansyah. Keduanya menyajikan hidangan Eropa kontemporer dengan hampir 95 persen bahan-bahannya diambil dari pertanian sekitar serta sebagian besar merupakan produk organik—diklaim sebagai yang pertama di Indonesia. Popularitasnya pun menggelitik koki-koki berskala internasional seperti André Chiang asal Singapura dan Will Meyrick untuk mencoba menunya. Eelke dan Ray tak terpaku pada satu menu, daftar makanannya dirotasi secara berkala. Jika makan di sini, pilih paket tujuh hidangan guna lebih menyelami talenta Eelke dalam mengolah bahan-bahan organik lokal menjadi hidangan sekelas restoran bintang Michelin. Rencananya, Eelke juga akan membuka Locavore to Go yang memfokuskan masakannya pada sarapan dan makan siang.
Jl. Dewi Sita, Ubud; 0361/977733; Locavore.

Comments