4 Hotel Langganan Selebriti

Empat penginapan bersejarah di Lucerne yang berhasil mengombinasikan keglamoran masa silam dan kemewahan masa kini.

Park Hotel Vitznau, properti yang didirikan pada 1903 dan telah direnovasi selama tiga tahun pada 2000 di bawah pemilik baru.

Oleh Cristian Rahadiansyah

Jika ingin memikat raja dan ratu, maka dirikanlah istana. Petuah itu dipraktikkan secara harfiah di Lucerne, dan hasilnya bisa kita lihat hingga kini dalam wujud hotel-hotel megah dan mewah yang seolah dicomot dari negeri dongeng.

Kisahnya dimulai pada pertengahan abad ke-19, tatkala Swiss baru membuka babak pariwisata. Waktu itu, warga Eropa, terutama asal Inggris, sedang kecanduan mendaki gunung, termasuk gunung-gunung di Swiss yang memang terkenal akan keindahannya. Di saat bersamaan, Swiss tengah giat-giatnya membentangkan jalur rel ke penjuru negeri. Memanfaatkan dua momentum tersebut, Lucerne, canton (negara bagian) di tengah Swiss, mendirikan banyak hotel demi menjala wisatawan asing.

Megaproyek itu melibatkan banyak arsitek dan desainer hebat. Di tangan mereka, hotel-hotel di Lucerne bersaing untuk menjadi yang paling glamor, paling megah, dan paling mewah. Maklum, dulu, pelesir adalah kegiatan yang dilakoni hanya oleh kaum bangsawan dan borjuis, karena itulah setiap hotel mesti memastikan bangunannya memenuhi standar gaya hidup mereka.

Hingga kini, mayoritas “hotel-istana” itu masih berdiri, masih beroperasi, masih menerima tamu-tamu agung. Raja dan ratu memang kadang masih berlibur di Lucerne. Di antara mereka, kita bisa menemukan pesohor seperti bintang film, atlet, penulis, pujangga, serta seniman. Yang juga menarik, jejak mereka tidak dibiarkan menguap. Sejumlah hotel mengenang tamu-tamu kondangnya itu dalam plakat, foto, poster, juga desain kamar. Empat properti berikut adalah sebagian contohnya.

Kiri-kanan: Salah satu menu di Prisma, restoran dengan satu bintang Michelin; Christian Nickel, koki restoran Prisma di Park Hotel Vitznau.

Park Hotel Vitznau
Eksteriornya setia melestarikan masa silam, tapi interiornya menatap jauh ke masa depan. Di sekitar Danau Lucerne, Park Hotel Vitznau merupakan penginapan yang paling mahal, paling canggih, barangkali juga paling eksperimental.

Hotel ini menampung 47 unit kamar yang didesain secara individual di bawah enam tema induk: wine, dine, health, wealth, art, dan culture. Tiap tema tersebut diterjemahkan dalam corak, mebel, dan penataan yang berbeda. Satu kesamaan di antara kamar-kamar di sini hanyalah teknologinya. Layaknya mobil keluaran terbaru, setiap pintu kamar bisa dibuka dan dikunci memakai teknologi sensor yang ditanam dalam smart key berbentuk sekeping batu. Jika ingin menurunkan tirai atau memadamkan lampu, kita hanya perlu menekan tombol pada monitor iPad. Sementara untuk mengatur kucuran air di kamar mandi, kita cukup menekan tombol-tombol yang berbaris di dinding.

Kamar di Park Hotel Vitznau yang menatap danau.

Park Hotel Vitznau, anggota kolektif Leading Hotels of the World, berlokasi di Desa Vitznau, persis di kaki bukit yang mengangkangi Danau Lucerne. Properti ini didirikan pada 1903. Pada 2000, di bawah pemilik baru, bangunannya direnovasi selama tiga tahun, lalu dibuka kembali dengan interior yang lebih bugar dan canggih. Selain kamar-kamar yang sarat tombol, suguhan barunya adalah enam wine cellar, kolam renang semi-terbuka yang dilengkapi pemanas, serta bar berisi 250 varian Cognac dan Armagnac—koleksi yang langka untuk sebuah hotel.

Magnet lain hotel necis ini adalah kedua restorannya. Prisma, gerai yang dipimpin oleh koki Christian Nickel, telah memiliki satu bintang Michelin. Focus, restoran yang hanya buka di jam makan malam, sukses menyabet dua bintang Michelin. Berkat reputasi kedua restorannya, Park Hotel Vitznau juga tersohor sebagai “hotel kuliner” yang paling bergengsi di tepi Danau Lucerne. Seestrasse 18, Vitznau; 41-41/3996-060; parkhotel-vitznau.ch; mulai dari Rp9.500.000.

Grand Hotel National, properti yang pernah ditinggali Pangeran Friedrich dan Maharaja Baroda.

Grand Hotel National
Grand Hotel National, properti megah yang bersemayam di tepi Danau Lucerne, membuka pintunya pertama kali pada 1870. Wujudnya lebih menyerupai kastel ketimbang hotel. Arsitekturnya mengusung langgam renaisans, sementara interiornya dipengaruhi gaya empire. Menatap parasnya, ingatan kita mungkin akan melayang ke hotel mitologis dalam film The Grand Budapest Hotel.

Kendati posturnya gigantik, Grand Hotel National menampung hanya 41 unit kamar. Kata staf hotel, bangunan ini awalnya berisi lebih dari 200 kamar. Akan tetapi, akibat Perang Prussia, industri pariwisata di Eropa lesu dan pihak pemilik hotel pun terpaksa menyunat dan melebur banyak kamar. Sekarang, keputusan itu justru menguntungkan. Setidaknya tamu bisa menikmati sesi sarapan yang lebih lengang dan kamar-kamar yang lebih lapang.

Restaurant National di Grand Hotel national, properti yang beroperasi sejak 1870.

Seluruh kamar di Grand Hotel National dilapisi wallpaper bermotif, dialasi lantai marmer, diterangi kandil kristal. Khas hotel lawas, ornamen dan perabotnya jauh dari kesan minimalis, umpamanya sofa sintal, gorden tebal, lukisan dengan bingkai penuh ukiran, serta matras gemuk dengan headboard yang tak kalah gemuk. Menginap di sini, kita akan merasakan kemewahan yang dulu hanya dinikmati oleh segelintir aristokrat, sebut saja Pangeran Friedrich dari Prussia atau Maharaja Baroda dari India. Haldenstrasse 4; 41-41/4190-909; grandhotel-national.com; mulai dari Rp4.600.000.

Comments