3 Landmark Ikonis Berlin

Tahun depan, Jerman akan mengenang dua peristiwa besar yang mengubah wajahnya sekaligus peta politik dunia: 100 tahun pendirian Partai Buruh dan 30 tahun runtuhnya Tembok Berlin. Tiga landmark di Berlin menjadi saksinya.

wisata berlin
Turis menyusuri Tembok Berlin. (Foto: Philip Koschel/German National Tourist Board)

Oleh Karina Anandya

Tembok Berlin
Dari semua tembok paling terkenal, sebut saja Tembok Besar Tiongkok dan Tembok Ratapan, sepertinya hanya Tembok Berlin yang diharapkan kehancurannya.

Tembok Berlin adalah produk konyol Perang Dingin. Struktur buatan 1961 ini membelah Berlin secara fisik dan ideologis menjadi Berlin Barat dan Berlin Timur. “Istilah ‘membelah’ Berlin sebenarnya kurang pas,” ujar Dirk Slawetzki, pemandu saya, “karena sejatinya tembok ini hanya mengelilingi secuil wilayah.”

Banyak nyawa melayang saat berupaya melintasi Tembok Berlin—episode tragis yang pernah ditafsirkan dalam puluhan film, mulai dari The Spy Who Came in from the Cold hingga The Man from U.N.C.L.E. Pada 1989, komunisme tumbang dan Tembok Berlin pun kehilangan alasan eksistensinya. Setahun berselang, dinding sepanjang 155 kilometer ini dihancurkan, tapi tidak seluruhnya. Sisa tembok sepanjang 1,3 kilometer di bagian East Side Gallery masih bisa disaksikan. Permukaannya telah menjadi   kanvas bagi banyak seniman, salah satunya Stephen Evans yang melukis mural kontroversial Brezhnev-Honecker.

wisata berlin
Balok-balok kelabu Holocaust Memorial. (Foto: Meinzahn/123rf)

Holocaust Memorial
Nazi bermula sebagai Partai Buruh yang diresmikan pada 1919. Awalnya beroperasi di tingkat nasional, partai ini berkembang jadi mesin perang transnasional yang memakan jutaan nyawa. Sebagai penghormatan bagi para korban sekaligus pengingat agar Jerman tak jatuh ke lubang fasisme yang sama, pemerintah Jerman mengerek Holocaust Memorial pada 2003.

Di lahan seluas tiga lapangan sepak bola, Holocaust Memorial menampung 2.711 balok beton yang sekilas menyerupai peti jenazah. “Holocaust Memorial memiliki desain yang rumit dan membingungkan, guna menunjukkan sistem pemerintahan yang tidak berperikemanusiaan,” jelas seorang pemandu tur. Proyek bernilai €25 juta ini ditangani oleh arsitek Peter Eisenman dan kontraktor Buro Happold. Peresmiannya dilangsungkan pada 2005, persis 60 tahun pasca-Perang Dunia II.

Baca juga: 8 Tempat Wisata Memikat di JermanPesona Pulau Indah di Utara Jerman

wisata berlin
Gerbang Brandenburg yang menjulang 26 meter. (Foto: Lars Voedisch)

Gerbang Brandenburg
Usianya sudah lebih dari 200 tahun. Makna politisnya berubah-ubah, tergantung siapa yang berkuasa. Pada abad ke-19, Napoleon menjadikannya tempat perayaan kemenangan perang. Saat Jerman berada di bawah komando Nazi, gerbang ini dijadikan salah satu simbol partai. Kemudian, sejak berakhirnya Perang Dingin, Brandenburg berubah jadi lambang perdamaian dan penyatuan Jerman.

Desain Brandenburg terinspirasi oleh Akropolis di Athena. Itu sebabnya Berlin pernah dijuluki “Athena di tepi Sungai Spree.” Berkat keindahannya, struktur setinggi 26 meter ini laris dikunjungi turis. Tepat di atapnya terpajang Quadriga, patung dewi kemenangan Victoria yang ditarik oleh empat ekor kuda. Berhubung tak ada lagi perang, tiap tahunnya sang dewi hanya merayakan kemenangan para pelari. Brandenburg rutin dijadikan lokasi finis Berlin Marathon.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Oktober/Desember 2018 (“Saksi Sejarah”).

Comments