18 Ruang Seni Pilihan Lima Tokoh Seni

Dari Yogyakarta hingga Majalengka, ruang-ruang seni bermunculan dengan tawaran yang beragam. Kami meminta lima tokoh seni merekomendasikan 18 tempat yang patut Anda kunjungi.

Salah satu karya Nurdian Ichsan dalam pameran Sense of Order di Selasar Sunaryo, Bandung. (Foto: Ricko Fernando)

Selasar Sunaryo Art Space
Rekomendasi oleh FX Harsono.

Ruang seni ini hadir di masa ketika mayoritas orang Indonesia tak punya energi untuk menikmati seni—September 1998. Kala itu, Soeharto belum lama lengser, bau amis sisa kerusuhan masih tercium, dan banyak perut terdesak lapar. Tapi Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) terbukti mampu bertahan melewati periode sulit itu. Beberapa tahun kemudian, tempat ini bahkan melampaui khitahnya dengan menjadi salah satu objek wisata terpopuler di Bandung.

Sesuai namanya, tempat ini didirikan oleh Sunaryo, seniman kelahiran Banyumas yang menempuh pendidikan seninya di Institut Teknologi Bandung. Bermula sebagai galeri privat, SSAS kemudian berkembang menjadi ruang seni yang komplet. Fasilitasnya antara lain perpustakaan, kafe, toko suvenir, pondokan untuk residensi, serta amfiteater yang dikepung alam rindang. Terpisah dua menit berjalan kaki dari kompleks ini, ada Wot Batu yang memajang karya-karya unik berbahan batu dari Sunaryo. “Ruang seni yang indah dan asri,” jelas FX Harsono tentang SSAS. “Sebuah tempat yang harus dikunjungi.”

Tahun ini, merayakan ulang tahun ke-20, SSAS akan menanggap serangkaian acara menarik sepanjang tahun. Ajang pembukanya, Sense of Order, berlangsung pada 26 Januari-25 Februari 2018 dengan menampilkan karya-karya dari Nurdian Ichsan, seniman sekaligus dosen Program Studi Seni Keramik ITB. Jl. Bukit Pakar Timur 100, Bandung; 022/2507-939; selasarsunaryo.com.

Ruang pamer utama OHD Museum, Magelang. (Foto: Muhammad Fadli)

OHD Museum
Rekomendasi oleh Bambang ‘Toko’ Witjaksono.

Nama Dr. Oei Hong Djien sempat terseret skandal lukisan palsu, tapi sang maesenas agaknya tetap dihormati banyak orang sebagai sosok yang berperan besar dalam mengembangkan dunia seni rupa. Dr. Oei pernah menjabat penasihat The National Art Gallery Singapore dan anggota Dewan Pembina Yayasan Biennale Yogyakarta. Dia juga gemar membeli dan mempromosikan karya seniman Indonesia, termasuk ke kolektor berpengaruh seperti Budi Tek, pemilik Yuz Museum di Shanghai. Kontribusi lain Dr. Oei bagi dunia seni tentu saja pendirian OHD Museum, bangunan artistik yang menempatkan Magelang dalam orbit penikmat seni dunia.

Dr. Oei memiliki lebih dari 2.000 karya. Koleksi ekstensif inilah yang dipamerkan di museum secara bertahap dan berkala. Dari 29 November 2017-31 Maret 2018 misalnya, OHD Museum menggelar pameran bertajuk The Modern & The Contemporary yang menyuguhkan kreasi dari nama-nama masyhur sekaliber Affandi, But Mochtar, Nasirun, dan FX Harsono. Museum ini, kata Bambang Toko, “menampilkan karya-karya seniman Indonesia, baik seniman senior maupun seniman kontemporer masa kini.”

Magnet lain OHD Museum terletak pada bangunannya yang notabene juga sebuah “karya seni”—keunggulan yang jarang dimiliki ruang seni lain. Museum yang diresmikan pada 2012 ini menempati bekas gudang tembakau. (Dr. Oei pernah bekerja sebagai grader daun tembakau.) Fasadnya dihiasi relief evokatif buatan Entang Wiharso; ruang tunggunya dipercantik mural dari Eko Nugroho; sementara plaza kecil di jantungnya ditaburi paving block atraktif buatan 40 perupa, termasuk Putu Sutawijaya dan Heri Dono. Jl. Jenggolo 14, Magelang, Jawa Tengah; 0293/363-420; ohdmuseum.com.

Salah satu karya grafiti Gardu House. (Foto: Rahmad Hidayatullah)

Gardu House
Rekomendasi oleh Ade Darmawan.

“Ini komunitas street art terbesar di Jakarta,” jelas Ade Darmawan. Yang lebih menarik, Gardu House tidak lahir dari rahim Institut Kesenian Jakarta. Alih-alih, komunitas ini dirintis oleh sekelompok alumnus kampus desain Inter-Studi Jakarta. Nama “Gardu” terinspirasi dari sebuah gardu listrik di mana mereka biasanya bercengkerama sepulang kuliah.

Setelah sebelumnya bersarang di daerah Fatmawati dan Bintaro, Gardu House sejak 2015 mengontrak sebuah rumah di Jalan Ciputat Raya, sekitar satu kilometer dari Pasar Kebayoran Lama. Anggota aktifnya sekitar 20 orang, hampir semuanya pernah berurusan dengan aparat akibat aksi corat-coret. Jumlah seniman jalanan yang dinaungi tak bisa dipastikan karena Gardu House sedari awal merupakan sebuah komunitas cair yang merangkul siapa saja, termasuk para penggemar skateboard dan BMX. “Siapa saja boleh bergabung di sini, asalkan mau berbagi ilmu. Kalau bisa masak, boleh masak. Kalau suka gambar, boleh gambar,” jelas Rizky ‘Jablay’ Nugroho, dedengkot Gardu House.

Sejalan dengan semangat itu, acara-acara garapan Gardu House juga terbuka bagi semua orang, misalnya jamming bulanan, bazar stiker, serta tur City Connection ke kota-kota di Indonesia. Satu hajatannya yang menuntut proses administrasi lebih ketat hanyalah Street Dealin. Tahun lalu, festival grafiti raksasa ini diikuti oleh 27 seniman asal 10 negara, serta dihadiri sekitar 3.500 pengunjung. “Festival ini sangat besar, berskala internasional, mungkin yang terbesar di Asia,” tambah Ade.

Gardu House juga melayani proyek komisi. Hotel Indonesia, Java Jazz, dan Acer adalah beberapa mantan kliennya. Sejumlah anggota komunitas ini juga sempat disewa sebagai artisan oleh Entang Wiharso untuk menghiasi Children’s Art Space di Museum Macan. “Kita sudah punya unit usaha. Uang dari proyek komersial lebih banyak dipakai untuk menghidupi komunitas,” ujar Budi, anggota Gardu House. Jl. Ciputat Raya 324, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan; 0813-8048-3125.

Kiri-kanan: Lukisan dan patung karya I Made Palguna dalam pameran solonya yang digelar di Sangkring Art Space, ruang seni milik Putu Sutawijaya di daerah Bantul, Yogyakarta. (Foto: Ulet Ifansasti); EZ Halim, kolektor seni dan pemilik Halim Art Museum, Bogor. (Foto: Fransisca Angela)

Sangkring Art Space
Rekomendasi oleh Mikke Susanto.

Dihuni banyak ruang seni, mulai dari Plataran Djoko Pekik hingga SaRanG Building, Kecamatan Kasihan rutin memikat khalayak seni dari penjuru negeri. Tapi ada satu tempat di sini yang sepertinya melampaui semua tetangganya dalam hal ukuran, variasi acara, serta pamor di panggung dunia— Sangkring Art Space (SAS). “Daya tarik Sangkring terletak pada pameran-pamerannya, serta ruangruang yang ada di dalamnya,” jelas Mikke Susanto.

SAS, galeri milik seniman prolific Putu Sutawijaya, mulai dikonstruksi pada 2005. Dua tahun berselang, tempat ini diresmikan dan langsung menyita perhatian publik. Kontras dari banyak galeri di Yogyakarta yang bersahaja dan bernuansa rural, SAS tampil sangat modern dengan postur yang gigantik dan interior yang lapang. Majalah Time sempat membuat ulasan khusus tentangnya.

Tak berhenti di situ, SAS berekspansi. Pada 2011, sang pemilik meluncurkan Sangkring Art Project, sebuah ruang bagi eksperimen dan kolaborasi seni. Terakhir, pada 2016, Putu Sutawijaya melansir sayap baru bernama Bale Banjar melalui ajang Yogya Annual Art. “Meski terletak di desa, Sangkring memberi pengunjung tampilan pameran yang bernuansa internasional,” tambah Mikke. Nitiprayan RT 1/RW 20 No.88, Kasihan, Bantul, Yogyakarta; 0274/381-032; sangkringart.com.

Kiri-kanan: Logo Dia.Lo.Gue, ruang seni di area Kemang; wadah kongko di ruang paling belakang Dia.Lo.Gue. (Foto: Rahmad Hidayatullah)

Dia.Lo.Gue
Rekomendasi oleh FX Harsono.

Namanya lahir dari permainan leksikon yang cerdik: sebuah wadah untuk dia, lo, dan gue berdialog. Memasuki tempat ini, tamu pertama-tama akan singgah di butik yang menjajakan barang artistik seperti kaus buatan komunitas Daging Tumbuh dan radio kayu merek Magno. Setelahnya, ada galeri yang rutin memajang belasan karya. Berpindah ke zona berikutnya, ada restoran lapang yang ditaburi meja dan kursi kayu. Dia.Lo.Gue, menurut FX Harsono, “memberikan wawasan seni rupa dan desain kepada masyarakat.”

Dia.Lo.Gue didirikan pada 2010 oleh trio Hermawan Tanzil, Franky Sadikin, and Windi Salomo. Desainnya mengusung gaya urban tropis: kombinasi antara struktur beton polos, ornamen kayu, serta konsep semi-terbuka—sebuah suguhan apik yang khas Andra Matin, arsitek yang juga menggarap Potato Head Bali. Bermodalkan interior yang trendi itu pula, Dia.Lo.Gue luwes merangkul beragam segmen. Berbeda dari ruang seni yang kerap terkesan intimidatif terhadap publik yang awam seni, tempat yang berlokasi di kawasan elite Kemang ini kerap dijadikan wadah kongko oleh grup wanita ekspatriat, kelompok arisan, juga pelajar. Mereka lazimnya berkerumun di ruang paling belakang yang berlangit-langit tinggi dan terkoneksi ke sepetak taman rindang—sebuah kemewahan di Jakarta. Di ruang belakang ini pula kita bisa melihat patung buku granit kreasi Rizal Kedthes, serta seutas tangga fotogenik yang terkoneksi ke kantor LeBoYe, firma desain milik Hermawan Tanzil. Jl. Kemang Selatan 99A, Jakarta Selatan; 021/7199-671; dialogue-artspace.com.

Comments