18 Ruang Seni Pilihan Lima Tokoh Seni

Dari Yogyakarta hingga Majalengka, ruang-ruang seni bermunculan dengan tawaran yang beragam. Kami meminta lima tokoh seni merekomendasikan 18 tempat yang patut Anda kunjungi.

Lomba binaraga khusus buruh genting yang diadakan oleh Jatiwangi art Factory, Majalengka. (Foto: Adeng Bustomi)

Jatiwangi art Factory
Rekomendasi oleh Ade Darmawan.

Di tengah asyiknya dunia seni Indonesia menyaksikan pertumbuhan galeri partikelir yang mewah, perupa yang merangkap jutawan, juga lelang dan bursa seni yang menyilaukan, Jatiwangi art Factory (JaF) seolah kembali mengingatkan: seniman adalah aktor perubahan.

JaF bersarang di Jatiwangi, sebuah kecamatan yang dulu terkenal sebagai sentra penghasil genting, tapi kemudian mengalami transformasi besar karena krisis ekonomi, kepergian banyak wanita lokal ke luar negeri untuk menjadi TKW, serta kehadiran mal dan jalan tol. Melalui aneka programnya, JaF berupaya merespons dan memaknai konteks lokal tersebut. “Semua programnya diadakan di kampung dan melibatkan warga,” ujar Ade Darmawan.

Melalui Ceramic Music Festival, JaF mengubah genting menjadi instrumen musik sekaligus membangun kembali relasi antara warga dan tanahnya. Melalui Residency Festival dan Village Video Festival, mereka mengundang seniman lokal dan asing untuk menyelami kehidupan lokal dan menciptakan karya kolaboratif bersama warga. Mella Jaarsma dan Masha Ru adalah dua contoh seniman prominen yang pernah mondok di Jatiwangi. Kadang, JaF menanggap pula acara hiburan yang tak melulu terkait seni, umpamanya kontes binaraga khusus kuli pabrik genting.

Ketika didirikan pada 2005 oleh seniman Arief Yudi, JaF bermitra dengan hanya beberapa keluarga. Kini, banyak programnya melibatkan warga dari 16 desa, bukan semata sebagai penonton, tapi juga panitia. Pendekatan partisipatorisnya cukup menyedot perhatian dunia seni. Empat tahun silam, Camat Jatiwangi dan Lurah Desa Jatisura diundang oleh Fukuoka Asian Art Museum untuk menceritakan program-program seni di Jatiwangi dan kontribusinya bagi masyarakat. Jl. Makmur 604, Desa Jatisura, Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat; jatiwangiartfactory@gmail.com;jatiwangiartfactory.tumblr.com.

Interior Museum Macan yang desain oleh MET Studio London. (Foto: Toto Santiko Budi)

Museum Macan
Rekomendasi oleh Bambang ‘Toko’ Witjaksono, Bambang Bujono, FX Harsono, dan Mikke Susanto.

”Di museum ini,” jelas Bambang Bujono, “kita bisa melihat suguhan yang tidak bisa ditemukan di tempat lain: karya-karya seniman Indonesia dan luar negeri bersanding sejajar.” Suguhan itulah yang terlihat dalam ”Seni Berubah. Dunia Berubah,” pameran debut Museum Macan (Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara) yang berakhir pada 18 Maret silam. Di sini kita bisa melihat, misalnya, lukisan buatan Heri Dono bertetangga dengan lukisan Jean-Michel Basquiat, sementara karya maestro Srihadi Soedarsono bersisian dengan karya Mark Rothko.

Museum garapan pengusaha Haryanto Adikoesoemo ini diresmikan pada 4 November 2017. Dari total 800 karya yang dimilikinya, 90 di antaranya telah dipajang di pameran perdana. Seniman-seniman pembuatnya datang dari beragam mazhab dan era, sebut saja Raden Saleh, Trubus, Wang Guangyi, dan Damien Hirst. Tapi Museum Macan tak akan menampilkan koleksi dari gudangnya semata. Mei 2018, tur pameran Yayoi Kusama akan mampir di sini.

Kehadiran Museum Macan turut menggairahkan demam wisata ke museum di Jakarta. Saban akhir pekan, sekitar 4.000 orang mengarungi interiornya yang didesain oleh MET Studio London. Menurut FX Harsono, satu keunggulan museum ini adalah pengelolaannya yang profesional. Pengurusnya merangkul publik dan korporasi lewat sistem keanggotaan; ruang pamernya terbuka untuk kegiatan organisasi lain; dan program seninya berorientasi pada khalayak luas, termasuk anak-anak. Selain menyediakan ruang khusus pengunjung cilik, Museum Macan membentuk Forum Pendidik yang bertujuan mengasah wawasan seni bagi puluhan guru sekolah di Jakarta. AKR Tower Level MM, Jl. Panjang 5, Kebon Jeruk, Jakarta Barat; 021/2212-1888; museummacan.org.

Kiri-kanan: Muhammad Khalid (kiri) dan Fithor Faris, dua motor Kedubes Bekasi. (Foto: Yusni Aziz); toko suvenir di Gudang Sarinah Ekosistem, Jakarta. (Foto: Dwianto Wibowo)

Kedutaan Besar Bekasi
Rekomendasi oleh Ade Darmawan.

Dari empat kawasan satelit Jakarta, Bekasi mungkin yang paling sering diolok-olok. Puncaknya pada 2015 saat kota ini distempel “negara lain,” kadang “planet lain.” Tapi segala cacian itu justru menginspirasi Fithor Faris untuk mencetuskan ide brilian: mengganti nama ruang seni miliknya dari Pede Gede Kreatif menjadi Kedutaan Besar Bekasi. Tak hanya itu, dia bahkan mengundang Wakil Wali Kota Bekasi Ahmad Syaikhu untuk meresmikannya pada 1 November 2015. Strategi self-deprecate (menertawakan diri sendiri) itu sukses. Bekasi masih sering dicibir, tapi nama Kedubes Bekasi viral di media massa.

Kedubes Bekasi, sekitar tiga kilometer dari gerbang tol Jatiasih, adalah kompleks serbaguna yang menyalurkan energi kreatif anak-anak muda Bekasi. (Komikus selebriti Aruga Perbawa adalah salah seorang anggotanya.) Tempat ini ajek menggelar acara. Program music gig Main di Kedubes bergulir setidaknya sebulan sekali, begitu pula sesi pemutaran film indie bertajuk Be(kasi) Movie Screening. Selain itu, ada pembacaan puisi, diskusi sastra, pasar seni, serta kelas menggambar. “Tempat ini mirip versi kecil Gudang Sarinah Ekosistem sebenarnya,” jelas Ade Darmawan.

Untuk membiayai kegiatan Kedubes Bekasi, Fithor dan rekan-rekannya menjaring dana dari beragam sumber. Di Art Shop, mereka menjual kaus, pin, serta paspor Bekasi seharga Rp35.000 per buah. Di Kantin Kedubes, mereka menjajakan antara lain singkong goreng, es kopi bir, serta gabus pucung (ikan gabus dengan kuah keluak). Yang terakhir ini diberi embel-embel “makanan khas Bekasi yang terancam.”

Melalui beragam ikhtiarnya, Kedubes Bekasi perlahan menempatkan Bekasi, kota yang tak punya tradisi seni, dalam sirkuit seni Indonesia. Dengan itu, ia sekaligus mengirimkan sebuah pesan: ruang seni bisa muncul di mana saja, termasuk di kota yang marak dicela. Satu kendala tempat ini barangkali hanyalah listrik yang kadang padam. “Pernah saat Endah N Rhesa main di sini,” kenang Fithor, “tiba-tiba mati listrik, padahal baru dua lagu.”Jl. Raya Jatikramat 2A, Kecamatan Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat.

Kiri-kanan: Beberapa karya tanpa label di Rumah Seni Cemeti, Yogyakarta. (Foto: Ulet Ifansasti); Budi (kiri) dan Aldi Cloze, dua seniman anggota Gardu House, di markas mereka yang bersarang di Jalan Ciputat Raya. (Foto: Rahmad Hidayatullah)

Rumah Seni Cemeti
Rekomendasi oleh Bambang ‘Toko’ Witjaksono dan FX Harsono.

Dunia seni Yogyakarta berutang banyak pada Rumah Seni Cemeti. Melalui beragam programnya, tempat yang dirintis pada 1988 ini berjasa menyemai bakat-bakat lokal, mewartakan karya-karya mereka ke luar negeri, serta menyediakan wacana yang tajam bagi publik untuk memahami skena seni Yogyakarta. Dari rahim Cemeti inilah kita awalnya berkenalan dengan sosok-sosok progresif semacam Heri Dono, Eddie Hara, dan Agus Suwage. “Cemeti,” kata Bambang Toko, “merupakan pionir galeri yang menampilkan seniman-seniman kontemporer.”

Mencermati kiprahnya, Cemeti sebenarnya mirip sebuah kampus. Program utamanya adalah residensi, tak cuma bagi seniman, tapi juga kurator dan penulis. Acara berkalanya antara lain diskusi bersama artis, kuliah publik, serta presentasi proyek seni. Sementara lembaga arsipnya, Indonesian Visual Art Archive, aktif bergerilya mengumpulkan dokumentasi segala peristiwa di jagat seni—infrastruktur yang vital bagi perkembangan dunia seni nasional. Cemeti sebenarnya juga rutin menggelar ekshibisi, tapi sajiannya cenderung lebih konseptual ketimbang komersial. “Bentuk kesenian kontemporer yang eksperimental bisa kita temui di sini,” jelas FX Harsono.

Kini, diusia 30 tahun, Cemeti sebenarnya telah mapan. Tapi tempat yang didirikan oleh duet Nindityo Adipurnomo dan Mella Jaarsma ini masih setia berperan layaknya kanal alternatif. Merespons fenomena komersialisasi seni di Yogyakarta misalnya, mereka meluncurkan proyek-proyek yang tajam mengkritisi pasar. Dilatari semangat serupa, galerinya mencopot semua label dari karya yang dijual. Kata Nindityo, Cemeti ingin publik kembali membeli karya berdasarkan penghayatan, bukan karena silau akan kebesaran nama senimannya. Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta; 0274/371-015; cemetiarthouse.com.

Salah satu karya grafiti Gardu House di tembok GSE. (Foto: Dwianto Wibowo)

Gudang Sarinah Ekosistem
Rekomendasi oleh Bambang ‘Toko’ Witjaksono.

Namanya sudah cukup menjelaskan wujudnya: gudang milik pusat perbelanjaan Sarinah yang disulap menjadi ekosistem seni. Dan layaknya ekosistem seni, “makhluk” penghuninya cukup beragam. “Di sini tidak hanya seni rupa yang dipresentasikan,” jelas Bambang Toko, “tapi juga musik, desain, dan subkultur.”

Di Gudang Sarinah Ekosistem (GSE), pengunjung bisa menonton film di Forum Sinema, membaca buku di perpustakaan, atau berbelanja suvenir. Di waktu-waktu tertentu, ada presentasi oleh 69 Performance Club, festival video musik MuVi Party, bazar Tumpah Ruah, juga konser beragam artis dari beragam aliran. Musisi yang pernah mengisi panggungnya antara lain Efek Rumah Kaca, Shaggydog, serta grup kasidah Nasida Ria. “Cocok untuk anak muda,” tambah Bambang Toko.

GSE dimotori sekaligus dimandori oleh ruangrupa, sebuah organisasi seni yang aktif menggelar pameran, festival, lokakarya, dan penelitian. Awalnya mereka bergerak nomaden, dari daerah Pondok Labu, ke Pasar Minggu, lalu ke Tebet. Usai pendirian GSE pada 2015, ruangrupa bukan hanya memiliki pelabuhan baru yang megah dan representatif, tapi juga mampu menyediakan wadah bagi pergelaran garapan organisasi lain, misalnya Jakarta Biennale dan festival graffiti Street Dealin.

Pada akhir tahun ini, menurut rumor, GSE bakal direlokasi lantaran ruang rupa keberatan dengan tarif sewanya yang mahal—alasan lain bagi Anda untuk segera mengunjunginya. Jl. Pancoran Timur II No.4, Jakarta Selatan; 0856-9217-0155.

Comments